Kamis, 28 September 2017

Setelah Resign

Waktu berjalan dengan lambat, setiap kenangan pasti selalu menjadi memori yang tidak mudah untuk dilupakan. Setiap saat saya bersyukur atas garis hidup yang telah dilalui, dari waktu lahir, balita, masa sekolah, masa remaja, masa kuliah, masa fresh graduate, masa masuk ke jenjang berfikir panjang, masa menikmati pekerjaan, sekarang saya menikmati pengalaman yang lebih dari menikmati pekerjaan.

Ada sebuah nilai di setiap perjalanan waktu yang lambat, dimana semua harus berjalan demi detik, demi menit, demi jam, dan berulangnya hari, minggu dan bulan. Nilai setiap kejadian atau perkara tidak bisa dipandang hanya dari mata kita sebagai makhluk social. Tapi banyak yang berkepentingan pada lahir dan batin pada tubuh saya. Maka dikatakan bahwa kita sebagai khilafah atas diri sendiri adalah benar adanya. Pentingnya mengatur dan menyeimbangkan diri kita sendiri adalah kewajiban dan hak kita yang dilaksanakan.

Ketika slogan-slogan motivasi diri sendiri jaman dahulu harus diulangi kembali, lidah dan tubuh ini harus dibiasakan kembali juga seperti jaman dahulu. Semangat jaman dahulu pun masih bergelora di dalam hati dan semakin bertambah, idealisme juga semakin bertambah dalam menjalani kehidupan ke depan. Seperti kata orang tua yang selalu mengajak diskusi bahwa kami sudah makan asam garam, manis pedas kehidupan selalu aq ingat nasehat mereka dan saya pun begitu, memberikan penjelasan dan pengetahuan dalam sebuah diskusi kepada yang muda karena saya juga belajar dari orang muda ketika itu pula mereka adalah guru saya.

Kepedihan dalam cobaan hidup adalah sebuah kenikmataan dan kesedihan perlu dirasakan agar menjadi pribadi berkembang atas bertambahnya usia. Renungan dimana pagi menyongsong dan ketika bulan menerangi bumi. Kalo seorang manager atas bilang kita harus punya acuan dalam evaluasi perusahaan, terus kita sebagai manusia pribadi sendiri tidak punya acuan dalam mengevaluasi diri kita sendiri nanti ke depannya mau kemana dibawa mungkin ketika jiwa remaja bilang biarkan angin dan air membawa hidup kita. Tapi kalian lupa bahwa pemilik angin dan air adalah sang maha kuasa.

Kita adalah manusia sebagai pemimpin diri kita sendiri kemudian keluarga kita maka sebuah keharusan bagaimana mengevaluasi apa yang telah kita lakukan untuk menjadikan kita sebagai makhluk yang berfikir dan punya nafsu. Evaluasi itulah yang dilihat dari kita sendiri dan dari sekeliling kita yang mempunyai kepentingan terhadap kita. Bilamana ada kritik dan saran adalah bahan masukan kita untuk kita putuskan bagaimana harus melangkah. Dalam sebuah langkah perbanyak opsi pilihan untuk menyeselesaikan problem kita, karena dimana ada perhitungan setiap langkah kita sebagai jangka pendek dan jangka panjang.


Tidak ada kata hasil sempurna di setiap perbuatan dan kegiatan yang kita lakukan, karena kesempurnaan adalah mutlak milik ALLAH SWT.  Harus ada sebuah Iman untuk melaksakan segala kegiatan kita, bila orang barat bilang tidak perlu iman kepada agama tapi mereka punya iman kepada duniawi dan akal mereka. Hal ini adalah sebuah pilihan, saya sejak kecil berada dilingkungan agama maka Iman saya adalah agama. Saya beranggapan bahwa yang ada di dunia adalah kehendak DIA sang Maha Pengatur Segalanya. Semoga kehidupan kita di tentramkan oleh Agama kita masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar